Adiba dan Perjalanan ke Pondok
Di sebuah kota besar di Jogja, hiduplah seorang gadis cantik bernama Adiba. Ia adalah anak kedua dari
empat bersaudara dalam keluarga yang harmonis. Ayahnya, Pak Haris, bekerja di kantor Takaful,
sedangkan ibunya, Bu Maymunah, mengajar sebagai guru ngaji. Adiba adalah anak yang rajin dan tak
pernah bolos sekolah. Kini, ia telah lulus SD dan bersiap melanjutkan ke SMP.
Keputusan Besar
Malam itu, di ruang keluarga, Ayah dan Mama berbincang serius.
" Tidak terasa ya, Ma, Adiba sudah mau masuk SMP. Ayah sudah memikirkan tempat yang cocok
untuknya," kata Ayah.
Mama tersenyum, " Wah, sepertinya Ayah sudah punya pilihan. Di mana itu? "
" Ayah ingin memasukkan Adiba ke pondok pesantren. Ayah lihat dia anak yang baik dan polos. Ayah
hanya khawatir dia mudah terpengaruh oleh pergaulan di luar sana. Ayah sudah survei Pondok
Mardhotillah, tempatnya bagus dan lingkungannya islami."
Mama terdiam sejenak, lalu berkata, "Jujur saja, dari lubuk hati yang paling dalam, Mama agak berat
melepas Adiba ke pondok. Tapi kalau memang untuk kebaikannya, Mama setuju, asalkan Adiba juga
setuju. Mungkin kita bisa membiarkan dia mencoba seminggu dulu. Jika dia betah, kita lanjutkan. Jika
tidak, kita biarkan dia memilih sendiri."
Ayah mengangguk," Iya, Ma, kita tidak boleh memaksanya. Kalau Mama setuju, Ayah akan bicara
langsung dengan Adiba."
Suatu malam, Ayah masuk ke kamar Adiba.
" Assalamualaikum, anak kesayangan Ayah. Sudah tidur? "
" Waalaikumussalam, belum, Yah. Ada apa? "
Ayah tersenyum. " Ayah ingin membicarakan rencana sekolahmu. Ayah ingin kamu masuk pondok
pesantren."
Mendengar itu, Adiba terkejut. "Ayah tega membuang Adiba ke pondok? Bukankah Adiba anak
kesayangan Ayah dan Mama? "
" Bukan begitu, Nak. Justru karena Ayah sayang, Ayah ingin kamu mendapatkan lingkungan yang baik.
Adik dan abangmu nanti juga akan Ayah masukkan ke pondok."
Adiba terdiam, lalu menghela napas. " Baiklah, tapi Adiba ingin coba seminggu dulu. Kalau betah, Adiba
akan menetap."
" Baik, Nak. Besok kita berangkat pukul sembilan pagi."
Keesokan paginya, suara alarm dan kokok ayam membangunkan Adiba. Ia segera berwudhu,
menunaikan salat Subuh, lalu membaca Al-Waqi'ah bersama keluarganya.
Setelah itu, ia mandi dan bersiap-siap.
Nama Penulis : Wardah Nazihah
Saat sarapan, Mama menghidangkan makanan favorit mereka. "Hari ini istimewa, karena
Adiba akan berangkat ke pondok," ujarnya.
"Benar juga. Hampir saja Ayah lupa," kata Ayah sambil tersenyum. "Adiba, sudah siap?"
"Alhamdulillah, sudah, Yah."
Setelah berpamitan, Adiba masuk ke mobil bersama Ayah. Dengan perasaan campur aduk, ia
memulai perjalanannya ke tempat baru, berharap akan menemukan pengalaman berharga di
sana.
Awalnya, Adiba merasa kesepian di pondok karena harus berbaur dengan banyak orang. Dia
adalah seorang yang pendiam dan tidak banyak berbicara. Namun, semuanya berubah ketika
dia bertemu dengan Yasmin, seorang teman yang juga introvert seperti dirinya.
Mereka berdua menjadi tidak terpisahkan, selalu berdua dalam melakukan segala aktivitas,
mulai dari makan bersama, membuat cerita bersama, hingga murojaah bersama. Mereka
bahkan memiliki guru yang sama dan mendapatkan julukan "Duo Introvert".
Suatu hari, mereka dipanggil oleh Ibu Yayasan dan merasa deg-degan karena tidak tahu apa
yang akan terjadi. Namun, ternyata mereka dipilih untuk mengikuti lomba Tahfidz di Masjid
Istiqlal Jakarta.
Adiba dan Yasmin sangat bersemangat dan berlatih selama dua minggu sebelum lomba.
Mereka maju secara terpisah, tapi keduanya menunjukkan kemampuan yang sangat baik dalam
membaca Al-Qur'an dengan tajwid yang tepat.
Setelah berlatih selama dua minggu, Adiba dan Yasmin merasa siap untuk menghadapi lomba
Tahfidz. Mereka berdua maju ke atas panggung dan menunjukkan kemampuan mereka dalam
membaca Al-Qur'an dengan tajwid yang tepat.
Hasilnya, Adiba dan Yasmin berhasil meraih juara 1 dan 2 dalam lomba Tahfidz tersebut.
Mereka berdua sangat gembira dan bangga dengan prestasi yang mereka capai.
Ibu Yayasan dan guru-guru di pondok juga sangat bangga dengan prestasi Adiba dan Yasmin.
Mereka berdua menjadi contoh bagi teman-teman lainnya di pondok.
Adiba dan Yasmin juga semakin dekat dan menjadi sahabat yang sangat akrab. Mereka berdua
selalu berbagi cerita dan pengalaman, serta saling mendukung dalam segala hal.
Wardah Nazihah
Saya Wardah, saya mahasiswa UINSI Samarinda jurusan Bimbingan dan Konseling Islam .



























.png)



